Akhir-akhir ini saya sulit sekali tidur, entah mengapa, tapi ini aneh sekali rasanya.
Saya tidak tahu sebenarnya apa yang salah dengan diri saya, setiap hari saya mencari tahu, setiap hari saya bertanya-tanya sampai akhirnya saya sadar apa yang selama ini membuat diri saya gundah dan cemas, iya, saya kecanduan Media Sosial Instagram.
Melihat segala sesuatu yang ada di media sosial terutama Instagram membuat saya selalu membanding-bandingkan hidup, selalu ingin menjadi seperti ini, seperti itu, tidak ingin tertinggal, ingin melampaui segala sesuatu sejenisnya.
Setelah saya mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi pada diri saya, bisa dikatakan saya mengalami yang namanya FOMO (Fear Of Missing Out). Istilah FOMO pertama kali dikemukakan oleh seorang ilmuwan asal Inggris bernama Dr. Andrew K. Przybylski dan istilah ini pun sudah tercantum di dalam Oxford English Dictionary sejak tahun 2013 lalu.
Fear Of Missing Out Secara garis besar adalah kondisi saat seseorang merasa gelisah atau takut karena merasa ‘tertinggal’ akibat tidak mengikuti aktivitas tertentu.
Media sosial yang sangat berpengaruh pada diri saya adalah Instagram, karena hampir semua teman saya ada di sana dan saya bisa menunjukkan karya yang sudah saya buat di platform ini. Saya sangat senang dengan instagram sampai akhirnya Instagram benar-benar mengkontrol diri saya. Sehari saya bisa menghabiskan waktu 4-5 jam di sana ini benar-benar membuat diri saya lupa akan segala sesuatu yang lebih berharga.
Kenapa hanya Instagram? kenapa tidak media sosial yang lain?
Saya mempunyai beberapa akun sosial media, ada Facebook, Twitter, Youtube, dan Snapchat. Di Facebook saya tidak aktif, Facebook saya, saya gunakan hanya untuk akun game saya.
Twitter, teman-teman saya bisa saya pilih dan hiruk pikuk keadaannya pun lebih bisa dinetralisir menurut saya,
Youtube, saya hanya menonton ketika waktu senggang, biasanya saya menoton Youtube itu ketika saya sedang makan, mencari inspirasi atau mencari sesuatu yang hati saya sedang butuh.
Dan Snapchat saya gunakan hanya untuk mengobrol dengan teman luar negeri saya, di snapchat saya hanya mempunyai dua teman, yang pertama dari Vietnam dan satu lagi dari Philippina, saya mengobrol dengan mereka untuk melancarkan bahasa Inggris saya, mengapa saya bisa kenal mereka berdua? panjang ceritanya, lain kali saja saya ceritakan.
Di ke empat platform ini, saya tidak terlalu menghabiskan banyak waktu, saya hanya memainkannya ketika waktu senggang 30-60 menit saja.
Sampai akhirnya tiba di benak saya bahwa saya ingin berhenti sejenak bermain Instagram, pikiran ini tiba-tiba muncul seiring kecemasan saya yang mulai tidak karuan apalagi ditambah di masa pandemi seperti saat ini. Saya memutuskan untuk tidak bermain Instagram selama 30 hari kedepan, banyak ketakutan yang muncul, takut tertinggal, takut akan perubahan yang saya nanti tidak tahu, pokoknya banyak sekali ketakutan.
Target saya memang 30 hari tidak bermain Instagram, tapi bukan itu tujuan sebenarnya, tujuan saya sebenarnya adalah agar diri saya bisa lebih mengkontrol kapan saya memainkan media sosial ini bukan Instagram yang mengkontrol diri saya, dan agar bisa lebih berdamai dengan diri sendiri, karena selalu membandingkan apa yang orang punya dan yang kita punya tidaklah baik, menurut saya.
Sampai tulisan ini ditulis saya sudah memberanikan diri untuk keluar dari kecanduan saya sendiri, ini adalah hari ke empat saya tanpa Instagram, dan ini sangat sulit jari-jari saya selalu mencari kemana Instagram, biasanya sudah apal tata letak dimana Insragram berada tapi sekarang Instagram sudah tidak ada di Smartphone saya.
Ada banyak sekali kesenangan yang saya dapatkan walau hanya baru 4 hari tanpa menggunakan Instagram, saya bisa lebih produktif, fokus, tidur saya lebih nyenyak dan juga bisa lebih menghargai waktu bersama.
Bagi saya sebenarnya Instagram tidaklah buruk, di paltform ini saya, kamu dan kalian bisa mendapatkan apa yang dibutuhkan sebenarnya, contohnya seperti saya yang memiliki hobi editing, saya bisa meng-upload karya saya di platform ini agar orang lain tahu saya memiliki ke ahlian di bidang editing, yang mana menjadi seorang editor adalah cita-cita saya sekarang, dan bisa mendapatkan berbagai tawaran freelance walau tidak dengan jumlah yang besar. Mungkin kalian juga bisa mendapatkan lowongan magang atau kerja dari Platform ini.
Saya sadar, saya tidak mau dikontrol oleh sosial media itu sendiri, saya harus bisa mengkontrol diri saya terhadap sosial media.
Terkadang realita memaksa kita untuk terus melangkah, menerka-nerka segala sesuatu yang belum kita punya. Terkadang kita merasa lelah karenanya, terkadang kita merasa bahagia pula. Sampai akhirnya kita tersadar bahwa kita ini hanyalah manusia.
Alih-alih menjadi lebih baik, tapi malah menyiksa tanpa sadar, realita memang begitu misterius. Dan iya, saya ingin bernafas sejenak.
24/09/2020
Naufal Rambu
0 Comments: