Saya adalah seorang yang tidak pintar, saya sadar akan hal ini semenjak saya duduk di bangku Sekolah Dasar, saya selalu beruntung bisa seb...

Tidak Pintar

 



Saya adalah seorang yang tidak pintar, saya sadar akan hal ini semenjak saya duduk di bangku Sekolah Dasar, saya selalu beruntung bisa sebangku dengan teman yang bisa saya conteki, terutama pelajaran matematika, saya benar-benar tidak mengerti dengan pelajaran itu, biasanya saya selalu menggunakan kata "belum bisa" bukan "tidak bisa" bila saya mengerjakan sesuatu yang belum bisa mendapatkan hasil yang maksimal, tapi entah mengapa matematika benar-benar susah sekali masuk ke otak saya.

Seperti kebanyakan anak-anak pada umumnya, sewaktu kecil yang ada dipikiran saya hanyalah main, main dan main, untuk tugas saya tidak terlalu memikirkan bagaimana mengerjakannya, yang penting saat pengumpulan nanti, saya bisa mengumpulkan dengan cara apapun, dan untungnya teman-teman saya pun tidak keberatan bila saya melihatnya, saat SMP saya selalu mengerjakan PR di sekolah, saya selalu datang lebih awal untuk mengerjakan PR, sejak saat itu namanya berevolusi bukan PR lagi tapi PK(Pekerjaan Kebut) hahaha.

Walaupun seperti itu, saya juga tahu diri, misal ada pelajaran yang saya suka dan saya bisa mengerjakannya saya akan mengerjakannya sendiri, dan nanti akan saya bagikan di waktu pagi untuk teman-teman saya mengerjakan PK tersebut. 

Saya tidak pintar, tapi saya sadar, saya memang tidak pintar, saya juga bukan orang yang sangat berambisi untuk mendapatkan nilai terbaik di akademik, saya membalance kan antara akademik dan non akademik, dan dari SD sampai SMK kelas Dua saya selalu mendapatkan 10 besar, saya juga bingung mengapa saya bisa mendapatkan itu. 

Ingin menjadi pintar pernah ada dibenak saya, menjadi idola, menjadi seorang yang dikenal karena kemampuan akademiknya, dan saya tidak mendapatkannya, semakin saya berusaha, semakin banyak orang baru yang datang dan lebih pintar dari saya, saya pun menyerah untuk menjadi orang pintar. 

Seiring berjalannya waktu, saya sadar mengapa selama saya duduk di bangku sekolah saya bisa mendapatkan 10 besar, dan menjadi langganan beasiswa dari kantor ayah saya, sekali lagi saya sadar, saya tidak pintar saya hanya bertanggung jawab atas apa yang menjadi kewajiban saya untuk dikerjakan. Semakin saya bertanggung jawab atas kewajiban saya, semakin saya bisa merasa nyaman.

Saya adalah orang yang haus akan pelajaran sebenarnya, semakin saya ingin tahu, semakin saya bertanggung jawab untuk mewujudkan keingintahuan saya itu, dan sekarang saya sudah menjadi Mahasiswa, Maha, artinya yang paling, saya harus mulai bisa menempatkan tanggung jawab saya sebagai seorang pelajar, meski saya tidak pintar setidaknya saya tidak menyepelekan kewajiban saya sebagai seorang yang sedang menimba ilmu.

Saya tahu belajar dan mengerjakan tugas memang sangat membosankan bila dilakukan terus menerus, oleh karenanya tidak apa sekali-kali beristirahat dan jalan-jalan dengan pacar bila yang punya, saya belum punya. Menjadi pintar bila tidak bertanggung jawab atas apa yang sedang dijalani pun tidak elok rasanya, namun bila tidak pintar tapi bertanggung jawab atas apa yang sedang dijalani, saya kira itu bisa melampaui kepintaran manapun, dan iya, saya hanya bertanggung jawab atas apa yang sedang saya jalani, saya tidak pintar.



Foto dari : fotografierende (unsplash)



25/11/2020
Naufal Rambu 

0 Comments:

  Cinta dan kasih sayang, saya kira sebagian dari kita pernah merasakannya atau sekarang sedang merasakannya. Bagi saya rasanya itu sulit se...

Afeksi

 



Cinta dan kasih sayang, saya kira sebagian dari kita pernah merasakannya atau sekarang sedang merasakannya. Bagi saya rasanya itu sulit sekali diungkapkan, karena yang ada hanya ingin terus menerus tersenyum. Cinta bisa kemana saja dan ke apa saja, ke orang tua, ke pasangan, ke barang, atau mungkin hal lainnya, tapi ditulisan kali ini saya ingin menuliskan apa yang sedang saya rasakan terhadap cinta ke pasangan, atau jangan langsung ke cinta, tapi kasih sayang ke seseorang. Sayang belum tentu Cinta, kan?


Sebenarnya ini adalah kegelisahan saya saat ini, saya sering bertanya kepada diri saya sendiri, sebenarnya apakah dengan saya membangun cinta kembali ke pasangan (walaupun belum ada) akan sama saja atau lebih baik? bila dengan pasangan saya mendapatkan teman berbicara atau berbagi cerita, saya sudah mempunyai itu dengan sahabat atau teman saya, bila saya mendapatkan rasa cemburu dan kegelisahan karena takut tidak bisa memenuhi apa yang pasangan saya ingin, saya tidak mendapatkan itu ketika saya bersama sahabat atau teman saya, karena saya sadar, saya masih mahasiswa yang pas-pasan.


Saya pernah membaca tweet dari salah satu akun yg bernama @xximbecile , dia menuliskan


"I don't think I should say shit about my exes they're all wonderful people. It was what it was and it's okay. I don't have what she needs and it's entirely not her fault."


Dari tulisannya saya berpikir bahwa, benar ini bukan salah dia, tapi mungkin untuk sekarang sayanya saja yang belum bisa memenuhi apa yang dia ingin, saya harus jantan mengakuinya. Bukan berarti saya tidak pernah merasakan yang namanya cinta, saya adalah tipe orang yang sulit untuk bisa memulai, karena saya sadar saya itu cemen, sekedar mengajak kenalan saja mengumpulkan niatnya mikir berkali-kali, karena kelamaan mikir, saya sering sekali kedahuluan hahaha, sial.


Semakin beranjak saya semakin lebih bisa merasakan dan berpikir bahwa sepertinya tidak perlu terburu-buru, karena saya berpikir lagi perasaan dan emosi yang lunak ketika sudah menemukan pemiliknya akan lebih sulit mengeras dan bahkan hancur, ini hanya perkiraan, karena saya pun belum pernah merasakan yang seperti ini. Setiap dari kita memiliki penilaiannya sendiri-sendiri, bukan?.


Jujur, saya malas sekali merasakan sakit hati karena cinta, merasakan hal-hal yang sebenarnya sepele tapi membuat hati jengkel, itu sangat menyebalkan, serius. Tapi apakah saya akan terus seperti ini?, sampai akhirnya saya berpikir sebenarnya apa yang saya takutkan? bukankah rasa sakit adalah proses? semakin banyak merasakan rasa sakit, maka akan semakin baik pula hati mengolahnya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik?.


Saya bisa melihat dan merasakan apa yang namanya cinta, yaitu dari kedua orang tua saya, terutama dari ibu saya, dia tidak pernah menjelekan ayah saya, sesekali pun tidak pernah, walau kadang ayah saya menyakitinya, tapi dia selalu mengatakan, dia sayang sama kita, jadi tenang saja. Ibu saya memiliki hati dan ego yang lunak dan ayah saya yang mendapatkannya, ayah saya beruntung.


Afeksi adalah perasaan kasih sayang dan emosi yang lunak, saya menantikan untuk bisa merasakannya, tanpa terburu-buru.



Photo by : Daan Stevens (Unsplash)




02/11/2020

Naufal Rambu





 

0 Comments: