Rambu dan Ana di Kopi Merah Putih, Depok. Sambil mendengarkan lagu-lagu Lomba Sihir ditemani kucing saya bernama Suki yang terlelap mende...

  

Rambu dan Ana di Kopi Merah Putih, Depok.

Sambil mendengarkan lagu-lagu Lomba Sihir ditemani kucing saya bernama Suki yang terlelap mendengarkan alunan nada yang sebenarnya asik untuk menari, saya kembali melihat beberapa foto dan video perempuan yang tidak akan pernah bosan untuk saya jumpai di akhir pekan. Perempuan tersebut adalah Reviana Ariyani, seorang yang membuat saya percaya kalau cinta, memang ada di dunia.


Hari ini, 24 Desember 2024, hubungan kami berumur satu tahun. Masih sangat muda untuk ukuran suatu hubungan, tapi tidak apa-apa, saya sangat senang karena kami tumbuh bersama setiap harinya hingga saat ini.


Menurut saya Reviana atau yang sering saya panggil Ana, adalah perempuan yang berbeda. Bukan, dia bukan alien atau pun seseorang yang bisa mengeluarkan petir dari tangannya. Dia perempuan yang tinggal di bumi dan makan sea food seperti kita juga kok, kesukaannya itu kerang hijau saos tiram/asam manis, dan juga Sour Sally, eh, tapi ini bukan sea food, ya? Yasudah, intinya dia tidak mempunyai kekuatan-kekuatan aneh seperti di karakter-karakter Anime.


Kenapa saya menyebut bahwa Ana adalah perempuan yang berbeda?


Sebab hanya Ana, perempuan yang ada di pikiran dan hati saya, yang akan saya nikahi. Mengapa saya begitu yakin? Apakah tidak takut sesumbar? Jawabannya tidak dan ini bukan sesumbar. Bukannya hal baik harus kita yakini, terus didoakan, dan diusahakan? Setelahnya baru kita serahkan ke yang di atas. Saya tahu pasti tidak akan mudah, namun bukannya itu yang membuat kita belajar? Kita bisa jatuh bermiliar-miliar kali, namun kita juga bisa bangkit kembali dan terus hidup sampai sejauh ini karena setiap harinya kita telah melewati berbagai hal yang tidak mudah itu, bukan?


Foto bersama pertama kami.

Lagu-lagu Lomba Sihir berganti ke The Adams, ketika lagu berjudul Timur dimainkan, saya pun tersenyum sendiri. Sebab, di saat yang bersamaan saya sedang menatap hasil Photobox saya dengan Ana, foto tersebut diambil pada saat pertemuan pertama kami. Saat itu kami masih sama-sama canggung sekali. Wajahnya yang sangat ceria, menawan, juga tutur katanya yang sederhana membuat saya menjadi sering salah tingkah. Dengan wajahnya yang seceria itu, saya yakin saat itu juga, dia pasti bukan fans Manchester United seperti saya.


Setelah pertemuan pertama itu, kami pun semakin dekat. Sampai akhirnya di tanggal 24 Desember 2023, saya nyatakan perasaan saya dan saya jabarkan apa yang ingin saya lakukan selama 3 tahun ke depan, dan dia menerimanya. Kucing yang sepertinya sedang mengantuk menjadi saksinya. Hari itu kami masih sama-sama canggung selama di perjalanan pulang. Untuk mencairkan suasana sesekali saya putar spion sepeda motor untuk melihat wajahnya, setelah kami bertukar pandang, kami sama-sama tertawa bahagia.


Saksi awal mula hubungan Rambu dan Ana.

Hari demi hari pun berjalan seperti biasanya, dan tidak terasa hari ini, kami sudah bersama selama 365 hari. Perjalanan masih panjang, namun rasanya lirik lagu Timur yang sedang saya dengarkan ini, membuat hati saya tenang dan siap menulis, merekam, memfoto, dan membagikan kisah-kisah kami selanjutnya. Selamat satu tahun untuk hubungan kita, Reviana Ariyani.


Aku tak bisa menjanjikan surga atau bahagia untuk selamanya, tetapi jika engkau terus percaya, pasti akan ada jalan.” The Adams – Timur.

 


Rambu

24/12/2024

Perjalanan panjang petualang itu akhirnya menemukan titik awalnya. Ia sempat kehilangan arah, namun ia tidak berhenti untuk terus berjalan w...


Perjalanan panjang petualang itu akhirnya menemukan titik awalnya. Ia sempat kehilangan arah, namun ia tidak berhenti untuk terus berjalan walau dengan lambat.

Si petualang itu berpikir kalau dengan terus berjalan, ia bisa menemukan setidaknya tempat yang layak untuknya merebahkan badan. Tidak bisa dipungkiri juga, terkadang ia berpikir untuk menyerah, namun ia disadarkan dengan impiannya, yaitu melihat aurora.

Pertama kali ia melihat aurora itu di televisinya, matanya langsung membesar seakan-akan ia telah melihat hal yang paling indah dalam hidupnya. Padahal ia baru saja menerima cobaan bertubi-tubi yang membuatnya sempat kehilangan arah.

Di siaran televisi itu ada musik yang sebenarnya ia tidak familiar dengan alunan nadanya, tapi ia tidak peduli, yang ia pedulikan hanyalah aurora yang indah, ia terkagum-kagum. Persetan dengan lagu di televisi itu, ia bisa memainkan lagu The Beatles kesukaanya ketika nanti melihat aurora secara langsung, pikirnya.

Di situ awal mula si petualang mencari informasi segala hal tentang aurora, mengapa ia bisa begitu sangat indah, dan bagaimana ia bisa ke sana. Kali ini ia sudah ditahap tergila-gila.

Tiga bulan ia mempersiapkan diri, modal dalam hal finansial bisa dibilang cukup, namun mentalnya saja yang sedikit membuatnya ragu, jantungnya berdetak seakan ingin lari dari dalam tubuhnya ketika hari H keberangkatannya.

Hari itu juga cuaca mendukungnya untuk melihat keindahan aurora, suara angin berhembus pun seakan membawanya terbang ketika pertama kali ia menapakkan kaki di tempat aurora berada.

Jantung si petualang itu sempat berhenti sedetik, ketika pertama kali ia benar-benar secara langsung melihat aurora itu, ia sempat tak bergerak karena keindahannya. Ia meletakkan tasnya dan mengambil earphone untuk memainkan lagu The Beatles kesukaannya: “Till There Was You”. Di bawah indahnya aurora, ia menari seakan kekecewaan dari perjalanan hidupnya tak pernah ada.

Si petualang itu tak pernah sebahagia ini dalam hidupnya. Kini ia bertekad untuk membangun rumah di tempat aurora itu tinggal. Perjalanan si petualang itu pun, menemukan titik awalnya.


Naufal Rambu

17/01/2024

Senang, sedih dan masih belum percaya, mungkin itulah kondisi yang dapat saya rasakan pada siang hari di tanggal 27 Agustus tahun 2022. Hari...


Senang, sedih dan masih belum percaya, mungkin itulah kondisi yang dapat saya rasakan pada siang hari di tanggal 27 Agustus tahun 2022. Hari dimana saya melakukan sidang penelitian tugas akhir kuliah, yang memastikan saya untuk mendapatkan gelar S.I.Kom. Setelah melakukan sidang tersebut, perasaan saya sangatlah emosional, karena saya mengingat berbagai momen yang saya lalui selama perjalanan kuliah ini.


Tidak seperti kebanyakan teman-teman saya yang mendapatkan berbagai macam dukungan dan support dari orang tuanya, saya memulai perjalanan kuliah saya dengan keadaan yang tidak diinginkan. Bahkan karena keadaan tersebut saya sempat kabur dari rumah. Saya tidak akan bercerita detail di sini, namun pada intinya perjalanan kuliah saya dimulai tidaklah dengan kondisi yang bahagia.


Berkat kejadian tersebut saya berjanji kepada diri saya sendiri, bahwa saya akan benar-benar menjalankan kuliah ini dengan baik dan tanggung jawab. Disaat yang bersamaan saya harus mulai mencari pekerjaan, setidaknya untuk jajan dan bensin sehari-hari, kondisi keluarga saya di awal masuk kuliah sedang terpuruk-puruknya. Jadi mereka hanya bisa membiayai saya untuk bayaran per-semester saja dan itu sudah Alhamdulillah sekali. Untuk jajan sehari-hari saya harus mencarinya sendiri, dan saya pun mengerti, saya tidak pernah meminta.


Saya mengerjakan pekerjaan apa saja yang dapat menghasilkan uang dengan cepat, mulai menjadi admin penginput data, asisten guru senam untuk menyiapkan lagu-lagu, menjadi tukang foto produk olahraga hingga menjadi tukang print saya pernah melakukannya, itu saya lakukan dari rentan waktu semester satu hingga tiga. Disaat teman-teman saya sehabis pulang kuliah, mereka nongkrong, saya tidaklah bisa meluangkan banyak waktu untuk nongkrong, karena saya harus menghemat uang saya.


Keinginan saya hanya satu pada saat itu, lulus kuliah tepat pada waktunya, tidak peduli jika saya dicap mahasiswa kupu-kupu pada saat itu. Hal baik pun muncul di semester empat masuk ke lima, saya mulai merapihkan CV dan portofolio pribadi saya untuk segera melamar di berbagai perusahaan sebagai video editor ataupun graphic designer, pekerjaan yang selama ini saya dambakan karena saya senang melakukannya. Kebetulan pada saat itu kuliah sudah mulai berbasis online, yang mana saya bisa lebih fleksibel mengatur waktu.


Saya melamar di berbagai macam perusahaan, namun tidak ada yang menerima, mungkin karena saya masih terlalu dini dengan CV dan portofolio saya. Namun saya tidak berhenti untuk berusaha sekaligus tetap berdoa. Tidak disangka-sangka teman saya menawarkan saya untuk kerja di kenalannya menjadi admin sekaligus graphic designer, walau gajinya jauh dari kata worth it dengan apa yang dikerjakan, tanpa pikir panjang saya langsung menerimanya. Dari situlah awal mula saya mengembangkan pemikiran saya dengan lingkungan kerja. Tidak berhenti di sana, setelah kontrak saya habis saya langsung mencari pekerjaan kembali, lagi dan lagi hingga akhirnya sampai sekarang saya bekerja di perusahaan yang bisa dibilang cukup bernama, karena pemiliknya adalah idola saya sendiri, karena beliau merupakan salah satu seorang yang menjadi ikon peradilan yang ada di Indonesia pada saat ini, bagi saya.


Berkuliah reguler sambil bekerja awalnya sangatlah melelahkan, saya harus mengorbankan jam tidur saya, karena jika tidak seperti itu, kuliah saya berantakan, jadi saya lebih memilih jam tidur saya yang berantakan daripada kuliah saya yang berantakan hahaha. Sampai terkadang orang tua saya membangunkan saya, untuk mengatakan tidur yang benar, jangan keseringan tidur di depan laptop dalam keadaan laptop yang masih menyala. Ah, saya jadi malu, sejak saat itu dari pintu kamar yang tidak pernah ditutup kalau malam, sekarang saya tutup.


Seiring perjalanan waktu juga, keadaan keluarga saya kian membaik, menjadi cukup dari yang kekurangan, menjadi menerima dari yang tadinya tidak bisa menerima, dan menjadi hangat dari yang tadinya emosi sering kali meluap-luap. Karena keadaan itulah saya dapat terus berkembang dan menjadi kuat setiap detiknya, mendapatkan pelajaran dari pengalaman sendiri memanglah hal yang sangat berharga.


Puncak dari awal doa saya empat tahun lalu untuk lulus tepat pada waktunya pun akhirnya tiba pada tanggal 27 Agustus tahun 2022 kemarin. Rasa senang karena bisa sampai di titik ini memang perlu diapresiasi, saya menangis haru sedikit setelah menutup salam akhir dari presentasi saya. Perjalanan yang sebenarnya barulah dimulai, saya sadar akan hal itu, namun saya ingin menikmati rasa bahagia haru ini sebentar saja, karena saya memulai kuliah dengan keadaan yang buruk namun menyelesaikan disaat keadaan yang berbahagia. Terima kasih ya Allah.


Naufal Rambu

28/12/2022


Ada beberapa hal yang saya takuti ketika saya hidup di dunia ini, salah satunya adalah gagal dalam menjalin sebuah hubungan dan harus memula...


Ada beberapa hal yang saya takuti ketika saya hidup di dunia ini, salah satunya adalah gagal dalam menjalin sebuah hubungan dan harus memulainya dari awal. Saya sadar bahwa hidup tidak akan terlepas dari yang namanya bertemu dan berpisah, namun entah kenapa berpisah adalah hal yang berat, dan bagi sebagian orang hal tersebut adalah sesuatu yang sulit untuk diikhlaskan, termasuk saya.

Ketika banyak teman saya mulai berlari cepat, saya masih melangkah mencari arah, iya, dalam mencari tambatan hati. Namun setiap orang memiliki waktunya masing-masing bukan? Saya kira saya memang benar-benar tidak jago dalam hal ini, atau memang saya saja yang mendramatisirnya, entahlah. 

Ada lagu favorit saya dari Idgitaf yang berjudul hal indah butuh waktu untuk datang, sebatas megagumi adalah hal yang paling bisa saya lakukan untuk sekarang. Tulisan ini sebenarnya adalah sebuah cerita yang sudah biasa ditulis oleh saya yang tidak jauh-jauh dari gagalnya saya menjalin sebuah hubungan padahal belum dimulai, intinya itu saja.

Saya berpikir ada baiknya cerita ini saya tulis karena umur saya kian bertambah dan saya ingin menjadikan ini sebagai sesuatu cerita yang berharga tentang bagaimana cara saya bersikap dari kegagalan dan kehilangan yang mengajari saya arti mengikhlaskan dalam perjalanan kisah hidup saya sendiri, Naufal Rambu.

Saya pernah bertanya kepada teman-teman saya tentang artinya sebuah kehilangan yang menjadikan pelajaran berharga sampai saat ini dalam hidupnya, jawabannya beragam ada yang menjawab seputar cinta, kerjaan dan bahkan keteledoran, namun inti kesimpulannya adalah ikhlaskan. Hal yang mudah untuk diucapkan namun tidak mudah-mudah amat untuk dijalankan haha.

Hal yang paling saya tidak sukai selain pete dan jengkol adalah kehilangan, agak jauh memang. Karena terkadang kehilangan itu menyakitkan dan terasa pahit, entah kehilangan apapun itu, yang namanya kehilangan, pasti hal yang hilang tersebut memiliki arti yang lebih dalam perjalanan hidup seseorang. 

Di akhir cerita saya ingin menulis, kehilangan dan kegagalan adalah sebenar-benarnya definisi rela bagi saya, ketika saya sudah merelakan, saya hanya ingin mengingat hal-hal baik dari kegagalan dan kehilangan tersebut. Karena hanya dengan hal demikian saya bisa benar-benar tahu apa arti ikhlas sesungguhnya.


Photo : Unsplash / @sofiameli

Naufal Rambu
05/05/2022

  Tahun baru saja berganti, banyak kejadian dan keajaiban yang saya rasakan di tahun 2021 kemarin. Tahun 2021 juga adalah tahun yang meresmi...

 


Tahun baru saja berganti, banyak kejadian dan keajaiban yang saya rasakan di tahun 2021 kemarin. Tahun 2021 juga adalah tahun yang meresmikan saya menjadi kepala dua, alias umur saya genap berusia dua puluh tahun. Saya sempat berpikiran “kok dua puluh tahun masih gini?” yang mana pemikiran saya juga saya tuangkan dalam bentuk video blog, kalau ingin tahu kunjungi saja Youtube saya; Natauary. Saya rasa tahun 2021 juga merupakan titik dimana diri saya dapat lebih bisa mengkontrol sesuatu yang datang kepada saya.


Umur yang sudah menginjak kepala dua, tentu saja menjadi semangat tersendiri bagi diri saya untuk dapat menggapai mimpi-mimpi yang selama ini saya citakan. Tentu saja untuk menggapai semua impian tidaklah bisa secara instan, namun ada proses yang harus dilewati secara sabar dan tentunya penuh rintangan. Saya selalu berdoa untuk mempunyai laptop baru dan kamera baru sebelum saya lulus kuliah, itu adalah salah dua doa saya diantara banyak doa yang selalu saya doakan, setiap hari saya berdoa lagi dan lagi, dan siapa sangka satu keinginan yang selalu saya doakan menjadi kenyataan, ada jalan untuk saya bisa membeli laptop baru,  laptop yang dapat membantu saya dalam mengerjakan pekerjaan saya untuk lebih baik lagi.


Saya masih kuliah saat saya menulis tulisan ini, oiya tahun 2021 juga adalah tahun dimana saya pertama kali menyusun laporan penelitian ilmiah saya, pemanasan sebelum skripsi, ini bukan proposal yang sampai bab 3 saja tapi benar-benar meneliti sampai bab 5, yang kuliah di Universitas Gunadarma pasti tau, ini wajib untuk syarat skripsi.


Kuliah sambil bekerja ternyata tidaklah mudah, awalnya saya ragu untuk menerima tawaran pekerjaan yang mewajibkan saya datang ke kantor, namun ibu saya meyakinkan saya untuk berani ambil, namun beliau juga berpesan kuliah adalah pekerjaan utama saya, karena kuliah saya adalah kuliah regular. Pagi sampai sore saya bekerja dan berkuliah online, malam saya mengerjakan tugas kuliah atau tugas kantor yang saya bawa pulang, walau jam tidur saya, saya korbankan, saya tetap senang menjalankannya.

Dibalik semua cerita di atas, hal baru dan pencapaian yang didapatkan semuanya tidaklah menjadi nomor satu, bukannya tidak bersyukur, namun saya sangat bersyukurnya selama melewati proses itu, saya melewatinya dengan orang-orang yang selalu menyemangati dan membawa aura positif kepada diri saya, karena bukan hanya apa yang didapatkan tapi proses apa yang bisa dijadikan pelajaran untuk kedepan. Tahun 2021 bagi saya, adalah tahun yang membuat saya lebih berani.

 


Naufal Rambu

02/01/2022

Mungkin benar, seiring berjalannya waktu kita bisa menerima segala sesuatu yang datang kepada diri kita, entah itu senang, sedih, rasanya ja...


Mungkin benar, seiring berjalannya waktu kita bisa menerima segala sesuatu yang datang kepada diri kita, entah itu senang, sedih, rasanya jatuh cinta dan bahkan sakit hati, semua itu tidak bisa dihindari. Seiring berjalannya waktu juga harapan akan terus muncul, dibarengi rasa kecewa yang mengikuti di belakangnya, oleh karenanya kita harus sadar untuk bisa menguatkan diri kita sendiri.


Waktu yang terus berjalan menuntun saya kepada hal-hal yang baru, namun tidak sedikit juga hal yang lama bisa terasa baru. Terkadang hidup ini penuh dengan ketidakpastian, yang sekarang digenggam mungkin besok bisa hilang, yang sekarang ditangisi mungkin memang itu bukan yang terbaik buat diri sendiri. Teman-teman yang bulan kemarin masih ketawa-ketiwi bareng, sekarang sudah sibuk untuk mempersiapkan masa depannya, lagi-lagi tak terasa waktu berjalan begitu cepat.


Mungkin itulah hidup, penuh dengan ketidakpastian, mungkin juga itu yang membuat hidup terasa menyenangkan, kita tidak tahu hari esok akan seperti apa, namun kita bisa merencanakannya, mau berhasil atau tidak, bukankah hal demikian yang membuat diri ini belajar menerima? Saya rasa iya. 


Kemarin adalah sejarah, hari ini adalah berkah, dan besok adalah misteri - Kungfu Panda :D


Gambar: Unsplash / Warren Wong


Naufal Rambu

1 September 2021

  Dalam hidup saya mempunyai berbagai macam keinginan yang ingin saya wujudkan atau mungkin bisa dikatakan sebagai ekspektasi, namun sebelum...

 



Dalam hidup saya mempunyai berbagai macam keinginan yang ingin saya wujudkan atau mungkin bisa dikatakan sebagai ekspektasi, namun sebelumnya, terkadang ekspektasi juga bisa membunuh saya secara perlahan, jika saya mendapatkan rasa kecewa karena tidak mendapatkan apa yang saya ekspektasikan tersebut. Hidup itu mungkin sekedar sandiwara dan bumi adalah panggungnya, lalu ekspektasi adalah bumbu di dalamnya.

 

Rasa terburu-buru untuk mekar secara bersamaan dengan teman-teman yang  sebelumnya  saya  rasakan karena ekspektasi yang berlebihan mengajarkan saya sesuatu yang baru saya dapatkan, bahwa hidup bukan tentang siapa yang cepat sampai terlebih dahulu, tapi hidup adalah sebuah proses.

 

Baik itu cepat ataupun lambat, selagi sadar akan proses yang  sedang dijalani, saya tidak perlu khawatir, saya juga paham bahwa bumi ini adalah panggung sandiwara, saya harus siap menerima apapun hasil dari ekspektasi yang telah saya buat sendiri, mau itu melebihi atau kurang, yang paling terpenting bukan terwujud atau tidaknya, tapi seberapa sadar dan belajar dari proses yang telah dilewati tersebut.

 


Photo :  Yasin Yusuf (Unsplash)

 

 

22/05/2021

Naufal  Rambu