Hari ini saya baru mengetahui apa arti makna bahagia bagi diri saya sendiri, sebenarnya apa bahagia itu? saya tidak bisa menjelaskannya se...

Bahagia

 


Hari ini saya baru mengetahui apa arti makna bahagia bagi diri saya sendiri, sebenarnya apa bahagia itu? saya tidak bisa menjelaskannya secara detail, tapi bahagia yang baru saya dapat adalah ketika saya sudah bisa merelakan sesuatu yang membuat diri saya tenang dan nyaman.


"Money is numbers and numbers never end. If it takes money to be happy, your search for happiness will never end" - Bob Marley


Iya, hari ini saya merelakan uang yang saya sudah tabung untuk biaya sehari-hari ketika masuk kuliah nanti karena suatu hal. Di masa pandemi saat ini, saya tidak bisa lebih banyak bergerak mencari pendapatan seperti biasanya yang mana untuk saat ini saya hanya bisa memenuhi jajan saya selayaknya anak kuliahan, saya kuliah reguler tidak kuliah sambil kerja, meminta kepada ortu pun saya sudah berhenti semenjak saya semester satu.


Lantas apa hubungannya? sebelumnya saya selalu sayang mengeluarkan uang, karena saya pikir dengan saya menabung dan saya bisa mendapatkan sesuatu yang saya inginkan dapat benar-benar membuat saya bahagia, tapi, itu hanya membuat diri saya puas, dan ketika uang itu saya gunakan untuk hal yang bukan keinginan saya, tapi itu bisa membuat diri saya tenang, saya benar-benar merasakan kebahagiaan.


Ini adalah cerita bahagia saya, yang baru saya temui. Mungkin kedepannya saya akan menemukan bahagia-bahagia yang lain, dan bersamaan dengan pelajaran yang bisa saya ambil. Jangan lupa bahagia, ya. :)



Photo : kuroko-ukou(Unsplash)



23/12/2020

Naufal Rambu


0 Comments:

  Tak apa orang lain bahkan seluruh isi dunia memandang diri ini rendah, tapi satu-satunya yang tidak boleh menilai diri ini rendah adalah d...

Tak Apa

 



Tak apa orang lain bahkan seluruh isi dunia memandang diri ini rendah, tapi satu-satunya yang tidak boleh menilai diri ini rendah adalah diri ini sendiri.

Kurang dari satu bulan lagi, saya menginjak kepala dua, ada banyak sekali hal yang saya lewati sampai saat ini, dipuji, direndahkan, bahkan dihina, dan iya, saya melewatinya dan pastinya akan lebih.... banyak lagi hal-hal seperti ini di depan sana. Terkadang saya berpikir bahwa dunia ini penuh dengan ketidakadilan, penuh dengan kebohongan tapi diwarnai dengan berbagai rasa kasih sayang.

Terlalu memikirkan apa yang akan terjadi sangatlah menyusahkan, terlalu memikirkan untuk disukai banyak orang sangatlah melelahkan. Sebelumnya saya mudah terpancing emosi tapi meluapkannya hanya dengan senyuman kebohongan, itu juga melelahkan. Tenang tak apa, saya sudah tahu saya harus apa, ya, berhenti melakukan itu.

Terlalu takut dipandang rendah oleh orang lain, yang bahkan hanya bisa menilai saja, sampai saya lupa yang menjalani hidup saya adalah saya, dia bisa menilai diri saya rendah, tapi dia tidak bisa menggerakan tubuh saya dan merasakan apa yang saya rasakan. Jadi mengapa saya harus memikirkan penilaian yang menjatuhkan saya? bukannya saya anti kritik, terkadang kita samar menilai mana yang benar-benar mengkritik, mana yang benar-benar merendahkan atau mempermalukan.

"Tenang tak apa" kata-kata yang sangat saya sukai, ketika saya mengatakannya kepada diri saya sendiri, di usia saat ini saya menggeneralisasikan segala yang saya inginkan, mencoba berbagai hal yang banyak menuai kegagalan, yang membuat diri saya berkata "tenang tak apa". Karena seorang teman pernah berkata bahwa ketika hari ini saya gagal, jatah gagal saya telah berkurang di masa depan, dan iya, saya setuju dengannya.




Foto dari : chuttersnap (unsplash)



07/12/2020
Naufal Rambu  

3 Comments:

  Saya adalah seorang yang tidak pintar, saya sadar akan hal ini semenjak saya duduk di bangku Sekolah Dasar, saya selalu beruntung bisa seb...

Tidak Pintar

 



Saya adalah seorang yang tidak pintar, saya sadar akan hal ini semenjak saya duduk di bangku Sekolah Dasar, saya selalu beruntung bisa sebangku dengan teman yang bisa saya conteki, terutama pelajaran matematika, saya benar-benar tidak mengerti dengan pelajaran itu, biasanya saya selalu menggunakan kata "belum bisa" bukan "tidak bisa" bila saya mengerjakan sesuatu yang belum bisa mendapatkan hasil yang maksimal, tapi entah mengapa matematika benar-benar susah sekali masuk ke otak saya.

Seperti kebanyakan anak-anak pada umumnya, sewaktu kecil yang ada dipikiran saya hanyalah main, main dan main, untuk tugas saya tidak terlalu memikirkan bagaimana mengerjakannya, yang penting saat pengumpulan nanti, saya bisa mengumpulkan dengan cara apapun, dan untungnya teman-teman saya pun tidak keberatan bila saya melihatnya, saat SMP saya selalu mengerjakan PR di sekolah, saya selalu datang lebih awal untuk mengerjakan PR, sejak saat itu namanya berevolusi bukan PR lagi tapi PK(Pekerjaan Kebut) hahaha.

Walaupun seperti itu, saya juga tahu diri, misal ada pelajaran yang saya suka dan saya bisa mengerjakannya saya akan mengerjakannya sendiri, dan nanti akan saya bagikan di waktu pagi untuk teman-teman saya mengerjakan PK tersebut. 

Saya tidak pintar, tapi saya sadar, saya memang tidak pintar, saya juga bukan orang yang sangat berambisi untuk mendapatkan nilai terbaik di akademik, saya membalance kan antara akademik dan non akademik, dan dari SD sampai SMK kelas Dua saya selalu mendapatkan 10 besar, saya juga bingung mengapa saya bisa mendapatkan itu. 

Ingin menjadi pintar pernah ada dibenak saya, menjadi idola, menjadi seorang yang dikenal karena kemampuan akademiknya, dan saya tidak mendapatkannya, semakin saya berusaha, semakin banyak orang baru yang datang dan lebih pintar dari saya, saya pun menyerah untuk menjadi orang pintar. 

Seiring berjalannya waktu, saya sadar mengapa selama saya duduk di bangku sekolah saya bisa mendapatkan 10 besar, dan menjadi langganan beasiswa dari kantor ayah saya, sekali lagi saya sadar, saya tidak pintar saya hanya bertanggung jawab atas apa yang menjadi kewajiban saya untuk dikerjakan. Semakin saya bertanggung jawab atas kewajiban saya, semakin saya bisa merasa nyaman.

Saya adalah orang yang haus akan pelajaran sebenarnya, semakin saya ingin tahu, semakin saya bertanggung jawab untuk mewujudkan keingintahuan saya itu, dan sekarang saya sudah menjadi Mahasiswa, Maha, artinya yang paling, saya harus mulai bisa menempatkan tanggung jawab saya sebagai seorang pelajar, meski saya tidak pintar setidaknya saya tidak menyepelekan kewajiban saya sebagai seorang yang sedang menimba ilmu.

Saya tahu belajar dan mengerjakan tugas memang sangat membosankan bila dilakukan terus menerus, oleh karenanya tidak apa sekali-kali beristirahat dan jalan-jalan dengan pacar bila yang punya, saya belum punya. Menjadi pintar bila tidak bertanggung jawab atas apa yang sedang dijalani pun tidak elok rasanya, namun bila tidak pintar tapi bertanggung jawab atas apa yang sedang dijalani, saya kira itu bisa melampaui kepintaran manapun, dan iya, saya hanya bertanggung jawab atas apa yang sedang saya jalani, saya tidak pintar.



Foto dari : fotografierende (unsplash)



25/11/2020
Naufal Rambu 

0 Comments:

  Cinta dan kasih sayang, saya kira sebagian dari kita pernah merasakannya atau sekarang sedang merasakannya. Bagi saya rasanya itu sulit se...

Afeksi

 



Cinta dan kasih sayang, saya kira sebagian dari kita pernah merasakannya atau sekarang sedang merasakannya. Bagi saya rasanya itu sulit sekali diungkapkan, karena yang ada hanya ingin terus menerus tersenyum. Cinta bisa kemana saja dan ke apa saja, ke orang tua, ke pasangan, ke barang, atau mungkin hal lainnya, tapi ditulisan kali ini saya ingin menuliskan apa yang sedang saya rasakan terhadap cinta ke pasangan, atau jangan langsung ke cinta, tapi kasih sayang ke seseorang. Sayang belum tentu Cinta, kan?


Sebenarnya ini adalah kegelisahan saya saat ini, saya sering bertanya kepada diri saya sendiri, sebenarnya apakah dengan saya membangun cinta kembali ke pasangan (walaupun belum ada) akan sama saja atau lebih baik? bila dengan pasangan saya mendapatkan teman berbicara atau berbagi cerita, saya sudah mempunyai itu dengan sahabat atau teman saya, bila saya mendapatkan rasa cemburu dan kegelisahan karena takut tidak bisa memenuhi apa yang pasangan saya ingin, saya tidak mendapatkan itu ketika saya bersama sahabat atau teman saya, karena saya sadar, saya masih mahasiswa yang pas-pasan.


Saya pernah membaca tweet dari salah satu akun yg bernama @xximbecile , dia menuliskan


"I don't think I should say shit about my exes they're all wonderful people. It was what it was and it's okay. I don't have what she needs and it's entirely not her fault."


Dari tulisannya saya berpikir bahwa, benar ini bukan salah dia, tapi mungkin untuk sekarang sayanya saja yang belum bisa memenuhi apa yang dia ingin, saya harus jantan mengakuinya. Bukan berarti saya tidak pernah merasakan yang namanya cinta, saya adalah tipe orang yang sulit untuk bisa memulai, karena saya sadar saya itu cemen, sekedar mengajak kenalan saja mengumpulkan niatnya mikir berkali-kali, karena kelamaan mikir, saya sering sekali kedahuluan hahaha, sial.


Semakin beranjak saya semakin lebih bisa merasakan dan berpikir bahwa sepertinya tidak perlu terburu-buru, karena saya berpikir lagi perasaan dan emosi yang lunak ketika sudah menemukan pemiliknya akan lebih sulit mengeras dan bahkan hancur, ini hanya perkiraan, karena saya pun belum pernah merasakan yang seperti ini. Setiap dari kita memiliki penilaiannya sendiri-sendiri, bukan?.


Jujur, saya malas sekali merasakan sakit hati karena cinta, merasakan hal-hal yang sebenarnya sepele tapi membuat hati jengkel, itu sangat menyebalkan, serius. Tapi apakah saya akan terus seperti ini?, sampai akhirnya saya berpikir sebenarnya apa yang saya takutkan? bukankah rasa sakit adalah proses? semakin banyak merasakan rasa sakit, maka akan semakin baik pula hati mengolahnya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik?.


Saya bisa melihat dan merasakan apa yang namanya cinta, yaitu dari kedua orang tua saya, terutama dari ibu saya, dia tidak pernah menjelekan ayah saya, sesekali pun tidak pernah, walau kadang ayah saya menyakitinya, tapi dia selalu mengatakan, dia sayang sama kita, jadi tenang saja. Ibu saya memiliki hati dan ego yang lunak dan ayah saya yang mendapatkannya, ayah saya beruntung.


Afeksi adalah perasaan kasih sayang dan emosi yang lunak, saya menantikan untuk bisa merasakannya, tanpa terburu-buru.



Photo by : Daan Stevens (Unsplash)




02/11/2020

Naufal Rambu





 

0 Comments:

Ada beberapa teman yang sangat mengasikan, dan sebaliknya. Bagi saya arti kata 'teman' itu mempunyai levelnya tersendiri, ada yang s...

Teman



Ada beberapa teman yang sangat mengasikan, dan sebaliknya. Bagi saya arti kata 'teman' itu mempunyai levelnya tersendiri, ada yang sudah sampai bertukar cerita, ada yang biasa saja, dan ada pula yang mendengarkan tapi sebenarnya tidak peduli. Saya sudah menemukan berbagai macam teman selama sembilan belas tahun hidup di bumi ini.  Hidup terasa sangat mengasikan bila cerita kita bisa didengarkan dengan orang yang mau mendengarkan secara jujur.


Saya mempunyai banyak teman, tapi tidak banyak yang sampai menyentuh level tertinggi versi saya, hanya beberapa bahkan tidak sampai lima orang. Semakin dewasa saya semakin banyak dapat masukan, membaca quotes yang seringkali mengatakan "tidak usah terlalu banyak mempunyai teman, carilah saja yang sefrekuensi", saya tidak mau seperti itu, akan hambar rasanya hidup bila jalan di jalan yang kita suka saja, menurut saya.


Teman dan Sahabat, apa bedanya? saya sering sekali bertanya, apakah bila saya bertemu dengan seseorang yang baru saya kenal hari ini misal, dan ternyata saya cocok olehnya dan dia mau mendengarkan secara jujur dan saya pun sebaliknya, bagi saya teman dan sahabat sama saja, mungkin hanya penyebutannya saja agar lebih menunjukkan pertemanan yang erat mungkin. Teman dan Sahabat sama saja, hanya levelnya saja yang membedakan. Jika ditanya levelnya itu seperti apa, saya sulit untuk bisa menjawabnya, mungkin teman yang masih bertahan hingga saat inilah yang mempunyai level tertinggi dipenilaian hidup saya.


Saya ingin berteman dengan siapapun, bertukar pikiran, berbagi pengalaman atau hal lain serupa yang menyenangkan, akan terasa mengasikan bila kita mempunyai banyak teman bukan?, yang harus dipahami mungkin saya harus bertanya kepada diri saya sendiri terlebih dahulu, apakah saya sudah bisa menjadi pendengar yang jujur dan baik untuk teman-teman saya? atau saya bisa memilih teman-teman saya untuk bisa saya dengarkan secara jujur dan baik?


Iya, keduanya bisa saya ambil, seperti yang saya sudah tuliskan di paragraf di atas, Teman dan Sahabat itu sama saja, hanya levelnya saja yang berbeda, dan buktinya teman yang benar-benar mencapai level tertinggi dipenilaian hidup saya hingga saat ini pun tidak mencapai lima orang, huhuhu.


Sampai di satu titik saya sadar, bahwa bertemanlah dengan siapapun dan dengarkanlah sesuai level yang dirasakan. Teman.



Photo dari : Daan Stevens (Unsplash)



21/10/2020

Naufal Rambu




0 Comments:

  Saya tidak paham mengapa cepat sekali usai Segala yang datang, pergi tanpa permisi Derai riuh sudah akrab dengan perasaan Berperang sepanj...

Derai

 




Saya tidak paham mengapa cepat sekali usai
Segala yang datang, pergi tanpa permisi
Derai riuh sudah akrab dengan perasaan
Berperang sepanjang malam

Saya terdiam, merasakan
Cerita yang sempat tergambarkan
Telah hilang dan hancur berantakan
Ingin pergi melupakan, tapi untuk apa?

Berlari dari kenyataan?
Bersembunyi dari ketakutan?
Atau menyerah pada perasaan?
Menyebalkan


Photo dari : Tom Barret (Unsplash)



10/20/2020
Naufal Rambu




0 Comments:

  Apakah kamu mempunyai tempat favorit di rumah kamu? jika iya, itu pasti sangat menyenangkan dan nyaman bukan? saya pun demikian, saya memp...

Tempat Favorit

 


Apakah kamu mempunyai tempat favorit di rumah kamu? jika iya, itu pasti sangat menyenangkan dan nyaman bukan? saya pun demikian, saya mempunyai tempat favorit yang baru saya temui sekitaran tiga bulan yang lalu, padahal saya sudah tinggal enam belas tahun di rumah ini, hahaha. Tempat itu berada di samping rumah saya. Setelah menemukan tempat ini, saya sering menghabiskan sore saya di sini, membaca buku, minum kopi sambil melihat awan, paket lengkap anak senja kalau kata anak muda jaman sekarang.


Entah mengapa hal yang benar-benar menyenangkan akan dipandang cringe jika sudah viral, saya tidak peduli, senja memang cocok dengan buku dan kopi. 


Saya dapat bebas berimajinasi di tempat ini, mengexplore segala ide, menyelam ke masa lalu karena sebuah buku, dan saya merasakan hidup lebih panjang. Ada hal baru yang saya rasakan, karena saya nyaman dengan tempat ini, yang tadinya nyaman dan banyak menghabiskan waktu untuk media sosial, kini ada waktu yang harus saya bagi ketika saya di rumah, dan saya rasa ini adalah hal yang positif.




16/10/2020

Naufal Rambu


 

0 Comments:

Sedari kecil saya sudah akrab dengan yang namanya perpisahan, berpisah dengan teman, berpisah dengan mainan kesayangan, hingga berpisah deng...

Perpisahan, Pertemuan



Sedari kecil saya sudah akrab dengan yang namanya perpisahan, berpisah dengan teman, berpisah dengan mainan kesayangan, hingga berpisah dengan hal yang sangat menyenangkan. Semakin umur bertambah saya semakin akrab dengannya, menjadi akrab dengan hal yang menyakitkan, hah, yang benar saja.  Hari demi hari saya bertumbuh menjadi manusia yang lebih bisa berpikir dan saya semakin banyak bertemu hal-hal baru, dan tentunya semakin banyak juga merasakan rasanya kehilangan.

Banyak sekali yang bilang awal dari pertemuan adalah perpisahan, namun menurut saya, awal dari perpisahan adalah pertemuan, kita hanya takut merasakan kehilangan tanpa berpikir bahwa sesungguhnya kita sudah banyak merasakan kehilangan sedari kecil tanpa disadari, dari kehilangan sesuatu kita bertemu dengan hal yang baru, ini aneh, tapi ini nyata.

Setiap pertemuan dan perpisahan pasti memiliki kesan yang berbeda-beda, itu sudah pasti. Saya sangat sedih ketika mainan kesayangan saya patah/rusak sewaktu kecil, saya menangis dan minta dibelikan yang baru. Saya mempunyai penyakit yang aneh sewaktu kecil, ketika saya menginginkan sesuatu, apabila yang saya inginkan tidak dibelikan, saya akan jatuh sakit, sewaktu kecil saya sering sekali dirawat di rumah sakit.

Namun disuatu waktu, ayah saya tidak membelikan mainan yang saya inginkan, ia malah membelikan sebuah komputer untuk saya. Saya tidak tahu ini sudah direncanakan olehnya atau tidak, kalau tidak salah ketika saya berumur sembilan tahun saya dibelikan sebuah komputer ini, awalnya saya tidak ingin memainkannya, karena bukan itu keinginan saya, saya belum mau berpisah dengan mainan-mainan saya, 

Karena ayah saya tidak membelikan mainan baru kepada saya, terpaksa saya harus berpisah dengan yang namanya mainan-mainan dan bertemu dengan hal baru yaitu komputer, setelah tahu di komputer bisa bermain games, saya mulai jatuh cinta dengan komputer, hahaha, secepat itu, tapi ini benar. Semenjak itu saya benar-benar melekat dengan yang namanya komputer bahkan sampai sekarang.

Pernah ketika saya sangat takut berpisah dengan seseorang yang sangat saya sudah yakini bahwa tidak ada yang seperti dia atau sulit mencari lagi yang seperti dia, namun nyatanya saya bertemu dengan berbagai macam teman yang baru, yang unik, yang secara tidak sadar menggantikan peran orang yang saya yakini sulit untuk mencarinya lagi.

Sedari kecil saya sudah akrab dengan yang namanya perpisahan, perpisahan memang menyakitkan, tapi dengan perpisahan kita dapat belajar hal yang sangat berharga dan mulai bisa membuka hati untuk berdamai dengan diri sendiri juga membuka hati untuk bertemu dengan hal baru. Saya sadar bahwa untuk terus bertumbuh saya harus terus berjalan, mencoba akrab dengan yang namanya perpisahan, juga membuka hati pada hal baru yang belum pernah dirasakan atau dapatkan.


Sampai tiba disatu titik saya berpikir bahwa Awal dari Perpisahan adalah Pertemuan.



Photo dari : Tom-Barett (Unsplash)
 

06/10/2020
Naufal Rambu

0 Comments:

  Banyak dari kita yang sangat menyukai bulan, termasuk saya, entah karena cahaya sederhananya ataupun karena hal lain. Setiap orang memilik...

Bulan

 


Banyak dari kita yang sangat menyukai bulan, termasuk saya, entah karena cahaya sederhananya ataupun karena hal lain. Setiap orang memiliki caranya tersendiri untuk menyukainya. Sedari kecil saya selalu bertanya, kenapa bulan selalu mengikuti saya ketika saya sedang berjalan, mungkin kebanyakan dari kita pernah bertanya ataupun merasakan hal yang serupa hahaha.


Seiring berjalannya waktu keindahannya pun tidak pernah meluntur, saya benar-benar menyukai bulan, karena tanpa sadar saya bisa menatapnya dengan waktu yang lama sambil tersenyum mengingat momen yang membuat saya bahagia ataupun mengingat hal sulit yang sudah bisa saya lewati.


Saya ingat sekali momen terindah ketika saya bisa melihat bulan secara lebih dekat bersamaan dengan lautan bintang, itu saat saya mendaki Gunung Sindoro, dan itu adalah pertama kalinya saya begitu terharu melihat keindahan bulan.


Bulan tidak pernah meninggalkan malam, ia akan tetap selalu menyinari gelap walau hanya dengan cahaya sederhananya, terkadang saya berpikir bahwa, tidak perlu menjadi yang lebih terang, bila yang sederhana saja sudah bisa membuat hal yang sangat berharga.


Ada keinginan disaat saya ingin menikmati cahaya bulan bersama seseorang yang saya sayangi kelak, berbagi cerita di bawah sinar redupnya, tertawa bersama, menari bersama, dengan iringan lagu fly me to the moon, mungkin itu akan sangat, sangat.. menyenangkan.


"Fly me to the moon, let me play among the stars" - Bart Howard (dipopulerkan oleh Frank Sinatra)



Photo dari : nathan-dumlao (unsplash)



02/10/2020

Naufal Rambu

0 Comments:

  Sepi terasa, tidak ada yang bertanya Suara riuh terdengar semakin jauh Kaki-kaki mulai terasa kaku Terombang ambing tak menentu   ...

Keinginan Kecil

 



Sepi terasa, tidak ada yang bertanya

Suara riuh terdengar semakin jauh

Kaki-kaki mulai terasa kaku

Terombang ambing tak menentu

 

Tidak ada yang peduli

Tidak ada yang mencari

Kini hanya kata-kata yang bisa diandalkan

Walau aku sendiri, aku selalu ingin menemani

 

27/09/2020

Naufal Rambu




0 Comments:

  Akhir-akhir ini saya sulit sekali tidur, entah mengapa, tapi ini aneh sekali rasanya. Saya tidak tahu sebenarnya apa yang salah dengan dir...

Keluar dari Kecanduan

 




Akhir-akhir ini saya sulit sekali tidur, entah mengapa, tapi ini aneh sekali rasanya.


Saya tidak tahu sebenarnya apa yang salah dengan diri saya, setiap hari saya mencari tahu, setiap hari saya bertanya-tanya sampai akhirnya saya sadar apa yang selama ini membuat diri saya gundah dan cemas, iya, saya kecanduan Media Sosial Instagram.


Melihat segala sesuatu yang ada di media sosial terutama Instagram membuat saya selalu membanding-bandingkan hidup, selalu ingin menjadi seperti ini, seperti itu, tidak ingin tertinggal, ingin melampaui segala sesuatu sejenisnya.


Setelah saya mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi pada diri saya, bisa dikatakan saya mengalami yang namanya FOMO (Fear Of Missing Out). Istilah FOMO pertama kali dikemukakan oleh seorang ilmuwan asal Inggris bernama Dr. Andrew K. Przybylski dan istilah ini pun sudah tercantum di dalam Oxford English Dictionary sejak tahun 2013 lalu.


Fear Of Missing Out Secara garis besar adalah kondisi saat seseorang merasa gelisah atau takut karena merasa ‘tertinggal’ akibat tidak mengikuti aktivitas tertentu.


Media sosial yang sangat berpengaruh pada diri saya adalah Instagram, karena hampir semua teman saya ada di sana dan saya bisa menunjukkan karya yang sudah saya buat di platform ini. Saya sangat senang dengan instagram sampai akhirnya Instagram benar-benar mengkontrol diri saya. Sehari saya bisa menghabiskan waktu 4-5 jam di sana ini benar-benar membuat diri saya lupa akan segala sesuatu yang lebih berharga.


Kenapa hanya Instagram? kenapa tidak media sosial yang lain? 


Saya mempunyai beberapa akun sosial media, ada Facebook, Twitter, Youtube, dan Snapchat. Di Facebook saya tidak aktif, Facebook saya, saya gunakan hanya untuk akun game saya.


Twitter, teman-teman saya bisa saya pilih dan hiruk pikuk keadaannya pun lebih bisa dinetralisir menurut saya, 


Youtube, saya hanya menonton ketika waktu senggang, biasanya saya menoton Youtube itu ketika saya sedang makan, mencari inspirasi atau mencari sesuatu yang hati saya sedang butuh.


Dan Snapchat saya gunakan hanya untuk mengobrol dengan teman luar negeri saya, di snapchat saya hanya mempunyai dua teman, yang pertama dari Vietnam dan satu lagi dari Philippina, saya mengobrol dengan mereka untuk melancarkan bahasa Inggris saya, mengapa saya bisa kenal mereka berdua? panjang ceritanya, lain kali saja saya ceritakan. 


Di ke empat platform ini, saya tidak terlalu menghabiskan banyak waktu, saya hanya memainkannya ketika waktu senggang 30-60 menit saja.


Sampai akhirnya tiba di benak saya bahwa saya ingin berhenti sejenak bermain Instagram, pikiran ini tiba-tiba muncul seiring kecemasan saya yang mulai tidak karuan apalagi ditambah di masa pandemi seperti saat ini. Saya memutuskan untuk tidak bermain Instagram selama 30 hari kedepan, banyak ketakutan yang muncul, takut tertinggal, takut akan perubahan yang saya nanti tidak tahu, pokoknya banyak sekali ketakutan.


Target saya memang 30 hari tidak bermain Instagram, tapi bukan itu tujuan sebenarnya, tujuan saya sebenarnya adalah agar diri saya bisa lebih mengkontrol kapan saya memainkan media sosial ini bukan Instagram yang mengkontrol diri saya, dan agar bisa lebih berdamai dengan diri sendiri, karena selalu membandingkan apa yang orang punya dan yang kita punya tidaklah baik, menurut saya.


Sampai tulisan ini ditulis saya sudah memberanikan diri untuk keluar dari kecanduan saya sendiri, ini adalah hari ke empat saya tanpa Instagram, dan ini sangat sulit jari-jari saya selalu mencari kemana Instagram, biasanya sudah apal tata letak dimana Insragram berada tapi sekarang Instagram sudah tidak ada di Smartphone saya.


Ada banyak sekali kesenangan yang saya dapatkan walau hanya baru 4 hari tanpa menggunakan Instagram, saya bisa lebih produktif, fokus, tidur saya lebih nyenyak dan juga bisa lebih menghargai waktu bersama.


Bagi saya sebenarnya Instagram tidaklah buruk, di paltform ini saya, kamu dan kalian bisa mendapatkan apa yang dibutuhkan sebenarnya, contohnya seperti saya yang memiliki hobi editing, saya bisa meng-upload karya saya di platform ini agar orang lain tahu saya memiliki ke ahlian di bidang editing, yang mana menjadi seorang editor adalah cita-cita saya sekarang, dan bisa mendapatkan berbagai tawaran freelance walau tidak dengan jumlah yang besar. Mungkin kalian juga bisa mendapatkan lowongan magang atau kerja dari Platform ini.


Saya sadar, saya tidak mau dikontrol oleh sosial media itu sendiri, saya harus bisa mengkontrol diri saya terhadap sosial media.


Terkadang realita memaksa kita untuk terus melangkah, menerka-nerka segala sesuatu yang belum kita punya. Terkadang kita merasa lelah karenanya, terkadang kita merasa bahagia pula. Sampai akhirnya kita tersadar bahwa kita ini hanyalah manusia.


Alih-alih menjadi lebih baik, tapi malah menyiksa tanpa sadar, realita memang begitu misterius. Dan iya, saya ingin bernafas sejenak. 



24/09/2020

Naufal Rambu




0 Comments:

Hai semua, Perkenalkan nama saya Naufal Rambu, teman-teman saya biasa memanggil antara kedua itu, sebenarnya nama panjang saya adalah A...

HAI



Hai semua, Perkenalkan nama saya Naufal Rambu, teman-teman saya biasa memanggil antara kedua itu, sebenarnya nama panjang saya adalah Ahmad Naufal Rambu Winata. Awalnya saya adalah orang yang selalu ingin merasakan bahagia, dan memberikan kebahagiaan itu sendiri kepada semua orang yang saya jumpai, tapi ternyata selalu ingin menjadi bahagia malah membuat saya kurang bisa merasakan rasanya bersyukur. Cukup.

Saya memutuskan untuk menulis blog kembali setelah sekian tahun saya tidak menulis blog, bukan karena apa-apa, tapi saya berpikir lagi dan lagi, bahwa tulisan yang jujur mampu mengabadikan segala sesuatu yang bisa dirasakan oleh setiap yang membaca. Umur yang kian bertambah membawa saya pada suatu titik dimana saya ingin menjadi orang yang seimbang.

Perkenalan tidaklah harus menyebutkan semuanya, karena dengan rasa ditulisan yang saya tulis di dua paragraf di atas adalah gambaran saya yang saat ini saya rasakan, karena saya yakin bahwa manusia setiap detiknya itu tumbuh, menyeluruh.

Sekian, salam hangat.


0 Comments: