Cinta dan kasih sayang, saya kira sebagian dari kita pernah merasakannya atau sekarang sedang merasakannya. Bagi saya rasanya itu sulit sekali diungkapkan, karena yang ada hanya ingin terus menerus tersenyum. Cinta bisa kemana saja dan ke apa saja, ke orang tua, ke pasangan, ke barang, atau mungkin hal lainnya, tapi ditulisan kali ini saya ingin menuliskan apa yang sedang saya rasakan terhadap cinta ke pasangan, atau jangan langsung ke cinta, tapi kasih sayang ke seseorang. Sayang belum tentu Cinta, kan?
Sebenarnya ini adalah kegelisahan saya saat ini, saya sering bertanya kepada diri saya sendiri, sebenarnya apakah dengan saya membangun cinta kembali ke pasangan (walaupun belum ada) akan sama saja atau lebih baik? bila dengan pasangan saya mendapatkan teman berbicara atau berbagi cerita, saya sudah mempunyai itu dengan sahabat atau teman saya, bila saya mendapatkan rasa cemburu dan kegelisahan karena takut tidak bisa memenuhi apa yang pasangan saya ingin, saya tidak mendapatkan itu ketika saya bersama sahabat atau teman saya, karena saya sadar, saya masih mahasiswa yang pas-pasan.
Saya pernah membaca tweet dari salah satu akun yg bernama @xximbecile , dia menuliskan
"I don't think I should say shit about my exes they're all wonderful people. It was what it was and it's okay. I don't have what she needs and it's entirely not her fault."
Dari tulisannya saya berpikir bahwa, benar ini bukan salah dia, tapi mungkin untuk sekarang sayanya saja yang belum bisa memenuhi apa yang dia ingin, saya harus jantan mengakuinya. Bukan berarti saya tidak pernah merasakan yang namanya cinta, saya adalah tipe orang yang sulit untuk bisa memulai, karena saya sadar saya itu cemen, sekedar mengajak kenalan saja mengumpulkan niatnya mikir berkali-kali, karena kelamaan mikir, saya sering sekali kedahuluan hahaha, sial.
Semakin beranjak saya semakin lebih bisa merasakan dan berpikir bahwa sepertinya tidak perlu terburu-buru, karena saya berpikir lagi perasaan dan emosi yang lunak ketika sudah menemukan pemiliknya akan lebih sulit mengeras dan bahkan hancur, ini hanya perkiraan, karena saya pun belum pernah merasakan yang seperti ini. Setiap dari kita memiliki penilaiannya sendiri-sendiri, bukan?.
Jujur, saya malas sekali merasakan sakit hati karena cinta, merasakan hal-hal yang sebenarnya sepele tapi membuat hati jengkel, itu sangat menyebalkan, serius. Tapi apakah saya akan terus seperti ini?, sampai akhirnya saya berpikir sebenarnya apa yang saya takutkan? bukankah rasa sakit adalah proses? semakin banyak merasakan rasa sakit, maka akan semakin baik pula hati mengolahnya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik?.
Saya bisa melihat dan merasakan apa yang namanya cinta, yaitu dari kedua orang tua saya, terutama dari ibu saya, dia tidak pernah menjelekan ayah saya, sesekali pun tidak pernah, walau kadang ayah saya menyakitinya, tapi dia selalu mengatakan, dia sayang sama kita, jadi tenang saja. Ibu saya memiliki hati dan ego yang lunak dan ayah saya yang mendapatkannya, ayah saya beruntung.
Afeksi adalah perasaan kasih sayang dan emosi yang lunak, saya menantikan untuk bisa merasakannya, tanpa terburu-buru.
Photo by : Daan Stevens (Unsplash)
02/11/2020
Naufal Rambu


0 Comments: